REVIEW

[REVIEW NOVEL] Purple Eyes – Prisca Primasari

29860681

 

Identitas Buku:

  • Judul : Purple Eyes
  • Penulis : Prisca Primasari
  • Penerbit : Penerbit Inari
  • ISBN : 978-602-74322-0-8
  • Halaman : 144 halaman
  • Tahun Terbit : 2016

Blurb:

“Karena terkadang, tidak merasakan lebih baik daripada menanggung rasa sakit yang bertubi-tubi”

Ivarr Amundsen kehilangan kemampuannya untuk merasa. Orang yang sangat dia sayangi meninggal dengan cara yang keji, dan dia memilih untuk tidak merasakan apa-apa lagi, menjadi seperti sebongkah patung lilin.

Namun, saat Ivarr bertemu Solveig, perlahandia bisa merasakan lagi percikan-percikan emosi dalam dirinya. Solveig, gadis yang tiba-tiba masuk dalam kehidupannya. Solveig, gadis yang misterius dan aneh.

Berlatar di Trondheim, Norwegia, kisah ini akan membawamu ke suatu masa yang muram dan bersalju. Namun, cinta akan selalu ada, bahkan di saat-saat tergelap sekalipun.

∴  ∴  ∴  ∴  ∴

I cant say anything but this book is so amazing!

Firstly, I fell to this book’s tagline “Lelaki itu masih hidup dan gadis itu sudah mati”. Yeay, Fantasy! It’s been a long time that I’m not read fantasy genre. Then, it’s cover with a man who walks in front of the short hair woman. I knew that the woman coming from another Era. I just feel that.

 

Before I decided to buy this novel, I came to goodreads and read some reviews. Aku baca bahwa novel ini berkisah tentang Dewa Hades dan Asistenya bernama Lyre. OMG, this is mitology novel. Tanpa pikir panjang aku order novel ini di Line Shoping Penerbit Haru.

Hades merupakan Dewa Kematian yang mengangkat Lyre, gadis yang berasal dari Inggris di Era Victoria untuk menjadi sekertarisnya. Apa yang mereka lakukan adalah membuat arsip orang meninggal dan menguji apakah manusia-manusia yang masuk ketempat mereka memilih untuk tetap hidup atau melanjutkan takdirnya, yaitu mati.

Dari tahun ke tahun, banyak sekali manusia yang memilih untuk mati. Hal ini membuat Sang Dewa Kematian merasa kebosanan sampai pada akhirnya Ia mendapatkan tugas untuk turun ke bumi. Seperti tugas sebelumnya, Hades turun ke bumi untuk membunuh para pembunuh berantai dengan cara yang “manusiawi”.

 

Mereka akan langsung mati, tanpa ujian. Itulah konsekuensi kalau kau hobi membunuhi orang. Daripada lebih banyak manusia tak berdosa yang jadi korban, lebih baik kaulah yang mati.

(Halaman 11)

 

Menurutnya lebih baik pembunuh berantai menerima hukumannya yaitu dibunuh oleh Dewa Kematian melalui manusia yang dipengaruhinya dibandingkan dengan si pembunuh berantai terus memakan korban.

Hades, turun ke bumi ditemani asistennya Lyre. Mereka melakukan penyamaran. Hades berganti nama menjadi Halstein. Lyre juga berganti nama menjadi Solveig. Mereka menemui Ivarr, kakak laki-laki dari korban pembunuhan berantai. Misi demi misi dijalankan Lyre atau Solveig untuk melancarkan rencana Hades.

Misi-misi itu membuat Solveig menjadi semakin dekat dengan Ivarr, pemuda yang tidak dapat merasakan apapun. Setelah ditinggal orang tua nya, ia kembali ditinggal oleh adiknya yang meninggal dengan cara kejam yaitu dibunuh dan diambil levernya.

Ivarr, pemuda yang memilih untuk mengubur perasaannya. Pemuda yang memilih untuk menenggelamkan sisi kelamnya. Ivarr tahu, jika ia mencoba untuk merasa maka ia tidak akan kuat menghadapinya. Semua akan terasa begitu pahit dan pedih. Ivarr tidak mau membayangkan rasa itu, ia begitu takut. Jadi ia memilih untuk menjadi layaknya manusia lilin.

Solveig, satu-satunya wanita yang meluruhkan lapisan es pada diri Ivarr. Solveig sedikit demi sedikit membuat hatinya merasakan hal-hal yang sudah lama tidak ia rasakan. Solveig membangkitkan kepekaan hati Ivarr. Ivarr dapat merasakan pedih, sakit, hangat, dan yang paling asing baginya adalah cinta.

 

Lantas bagaimana misi Hades dan Lyre  untuk menyamar? Tentu Hades tahu Lyre tidak akan mengacaukannya. Hades percaya akan hal itu. Tetapi melihat Lyre yang jatuh terlalu dalam membuatnya berfikir lebih. Apa yang akan dilakukan Hades? Sampai kapan Lyre menyembunyikan dirinya sebagai Solveig? Lalu siapkah Ivarr kembali merasakan pahit?

Well, kisah ini  merupakan kisah yang pahit, ditaburi sedikit pemanis melalui interaksi antara Solveig dan Ivarr. Kisah ini membawaku keluar dari zona nyaman. Aku harus menerima dibawa kedalam masa kelam dan pahit dari setiap tokohnya. Menyelami laut hitam mereka dan berakhir dengan kisah yang mengharukan. Sejujurnya, aku menyukai fakta baha novel ini membawa banyak kisah dongeng seperti tokoh yang membahas keberadaan peri dan mitos. Lalu penulis yang menyisipkan mitologi-mitologi yang sebenarnya ingin sekali ku pelajari.

 

“Bukankah lebih baik tidak merasa sama sekali” bisik Ivarr, “daripada merasa sakit…?”

“Saya mengerti” bisik Solveig. “Tapi sering kali, lebih baik merasa sakit daripada tidak merasa sama sekali…”

(Halaman 95)

 

Dari novel ini aku tahu, tak apa untuk merasakan sakit. Tak apa untuk menangis dan bersedih. Memang benar, ada kenangan pahit dan kesedihan yang terlalu berharga untuk dilupakan. Kehilangan, bukan berarti kita menghilangkannya. Seseorang yang berarti, memang sepatutnya dikenang bukan dilupakan, karena mereka pernah (bahkan selalu) berharga di hidup kita.

 

Last but not least, novel ini kuberi 4/5 bintang. Novel ini tipis tapi memiliki kisah yang tak bisa kita remehkan. Menurutku worth it, novel ini pantas untuk dibaca dan ku rekomendasikan ke kalian! Selamat membaca dan tenggelam pada Purple Eyes.

 

Sign Out,

Tinkerdels♥

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s